Saturday, January 31, 2015

Karya Tulis Ilmiah (KTI) Pemuda Adalah Nahkoda Bangsa

 
Siang semuanyaa…. Kali ini Deva akan memposting KTI ber-tema Kebangsaan. KTI Ini pernah juga Deva ikutkan Lomba LKTI dan alhamdulillah masuk tujuh bersar terbaik. Mudah-mudahan postingan ini bisa menjadi bahan referensi atau tambahan wawasan kalian mengenai nasionalisme kebangsaan.
 
BAB I
PENDAHULUAN
 
1.1. Latar Belakang
Diera ini rasa Nasionalisme kian terkikis dalam prilaku pemuda saat ini. Akibatnya, sudah menjadi pemandangan biasa pemuda lebih mencintai budaya asing dibandingkan budaya sendiri akibat makin buramnya rasa nasionalis.
Dengan berbagai serangan kebudayaan asing yang lama-kelamaan mengikis nilai-nilai luhur bangsa membuat banyak pemuda khususnya anak sekolah seperti kehilangan kepribadian dalam kebudayaan. Ini harus menjadi tugas tanggung jawab kita semua mulai dari pemerintah hingga masyarakat Pemerintah harusnya peka dengan berbagai hari bersejarah, bagaimanapun jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Pemuda sebagai salah satu aset Bangsa mempunyai peranan yang sangat penting untuk kemajuan bangsa, tidak dipungkiri lagi peran pemuda sudah terbukti sejak puluhan tahun yang lalu, namun sekarang pemuda kurang diperhatikan sehingga banyak pemuda yang sebenarnya ingin memberikan peran kepada bangsa dan negara ini namun akhirnya justru berbelok arah ke berbagai macam faham yang ada.
Sejarah telah menorehkan tintanya, bahwa dalam setiap momen penting perubahan bangsa ini senantiasa melibatkan kaum muda sebagai lokomotif penggeraknya. Peran pemuda dalam perubahan sosial bangsa bukannya sebuah isapan jempol. Jika perubahan penting bangsa ini dapat dikategorikan menjadi beberapa tahap, maka pada semua tahapan, peran pemuda selalu mengambil andil sebagai katalisator di setiap perubahan tersebut
Seperti yang telah penulis paparkan di atas tentang peran pemuda adalah unsur yang sangat signifikan dalam pembangunan bangsa itu sangat penting dalam rangka membangun kembali bangsa dengan penanaman nilai nasionalisme yang sejati, maka penulis tertarik dan merasa perlu untuk mengkaji hal tersebut dengan judul Pemuda Adalah Nahkoda Bangsa. Pemuda dirasa sebagai generasi penerus yang akan menahkodai perjalanan panjang bangsa ini. Pemuda dengan nasionalisme sejatinya diharapkan akan mampu membawa bangsa ini kepada pelabuhan yang menjadikan bangsa ini besar dan kaya. Dan sejarah telah membuktikan bahwa pemuda adalah ikon perubahan bangsa. Pemudalah yang selama ini telah mewarnai laju sejarah dan dinamika perjuangan bangsa. Melalui pemuda bangsa ini mampu lahir, bangkit, berdiri dan berjalan menjadi bangsa yang berdaulat, dengan berbagai dinamikanya.
 
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa arti penting dari semangat pemuda bagi masa depan bangsa ?
2. Bagaimana upaya untuk menumbukan kembali nasionalisme di kalangan pemuda ?
3. Apa dampak yang akan di timbulkan dari memudarnya nasionalisme di kalangan pemuda ?
 
1.3. Maksud dan Tujuan Penulisan
1. Untuk memahami arti penting.dari semangat pemuda bagi masa depan bangsa
2. Untuk mengetahui upaya yang bisa di lakukan untuk menumbuhkan kembali nasionalisme di kalangan pemuda..
3. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari memudarnya nasionalisme di kalangan pemuda.
 
1.4. Metode Penelitian
Untuk dapat memiliki informasi yang ada, selain wawasan dari penulis sendiri, penulis mencari informasi lewat buku, internet dan media lainya.
 
 
BAB 11
LANDASAN TEORI
 
2.1. Nasionalisme Kaum Muda Masa Kini
  Disetiap memasuki bulan Oktober, kita akan selalu diingatkan oleh sebuah peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa ini. Peristiwa tersebut kita kenal sebagai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sebagai bangsa beradab, tentu kita tidak ingin momentum bersejarah ini terlewatkan begitu saja. Seharusnya ada makna yang bisa diambil dari peristiwa besar ini. Salah satu makna paling menonjol dari peristiwa Sumpah Pemuda ini adalah menguatnya semangat nasionalisme di kalangan pemuda saat itu.
Semangat nasionalisme telah mengilhami pemuda pada masa itu, hingga mereka mampu menjadi pilar penting dan berada pada garda terdepan dalam merintis perjuangan kemerdekan bangsa Indonesia. Menarik untuk mempertanyakan bagaimana pula dengan semangat nasionalisme dan kepeloporan pemuda hari ini? Pertanyaan ini acap kali muncul di tengah keprihatinan berbagai kalangan yang mengkhawatirkan semakin lemahnya eksistensi dan posisi politik pemuda masa kini, terutama dalam mengemban misi kebangsaan.
Nasionalisme merupakan suatu kehendak untuk bersatu sebagai bangsa. Kehendak ini tumbuh karena didorong kesadaran akan adanya riwayat atau pengalaman hidup yang sama dan dijalani bersama. Demikian pengertian yang diberikan oleh Ernest Renan yang sering disebut sebagai bapak nasionalisme.
Selanjutnya peristiwa kongres pemuda tanggal 28 Oktober 1928 yang kemudian kita peringati sebagai Sumpah Pemuda adalah manifestasi tumbuhnya kesadaran nasional (nasionalisme) dalam perjuangan menghadapi kolonialisme dan imperialisme Belanda waktu itu. Langkah ini menjadi semacam titik balik dari pola perlawanan sebelumnya yang lebih bersifat lokal. Tidak bisa dipungkiri bahwa tumbuhnya kesadaran tersebut secara nasional tidak bisa dilepaskan dari kontribusi pemuda pada masa tersebut dengan idealisme dan paradigma barunya.
Demikianlah seterusnya, sejarah panjang bangsa ini mencatat konstribusi yang diberikan kaum muda di setiap persimpangan sejarah. Hingga wajar jika banyak pengamat sejarah yang menyatakan bahwa sejarah suatu bangsa sesungguhnya adalah sejarah kaum muda. Pemuda hadir pada titik persimpangan sejarah dan memberi arah bagi perjalanan bangsa ini. Sekadar menjadi catatan, perjuangan kaum muda di panggung sejarah juga terjadi di hampir seluruh belahan dunia.
Sejarah mereka adalah sejarah perlawanan dan pembelaan. Seperti ada benang merah bahwa gerakan pemuda biasanya lahir dari kondisi yang dihadapi masyarakat yang sudah tidak sesuai lagi dengan cita-cita negara dan harapan masyarakatnya. Mereka merespons berbagai situasi dan kondisi tersebut atas dasar kesadaran moral, tanggung jawab intelektual, pengabdian sosial, dan kepedulian politik. Tidak jarang pula ditemukan bahwa situasi global sering menjadi faktor yang memicu dan mematangkan kekuatan aksi mereka.
Lantas muncul pertanyaan bagaimana dengan pemuda masa kini? Bagaimana kita menakar nasionalisme mereka saat ini? Bagaimana pula kita memaknai peran, posisi dan kontribusi politik generasi yang sekarang ini lebih dikenal sebagai generasi anak nongkrong itu dalam panggung sejarah perubahan?
Louis Gottschalk dalam bukunya yang berjudul Mengerti Sejarah, memperkenalkan istilah zeigest yang biasa diartikan sebagai semangat zaman. Setiap zaman, diidentifikasi memiliki karakteristiknya sendiri. Ada tiga unsur yang mempengaruhi karakteristik semangat zaman. Pertama, ia bisa didesain oleh manusia sebagai pelaku atau tokoh sejarah. Kedua, semangat zamanlah yang membentuk manusia. Ketiga, semangat zaman lahir dari sturuktur politik dan kebijakan negara.
Dalam sejarah perjalanan bangsa yang menempatkan sosok kaum muda sebagai instrumen perubahan, peran politik kaum muda setidaknya dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu: mainstream isu yang berkembang, kepandaian menerjemahkan semangat zaman, dan ketepatan merumuskan strategi perjuangannya.
Pemuda Indonesia dalam sejarah cukup memainkan perannya dalam 'mendesain' setiap peristiwa besar perubahan bangsa ini, bahkan sekaligus menjadi aktor utama dalam peristiwa perubahan tersebut. Dalam hal ini bisa katakan bahwa pemuda telah memiliki daya responsivitas yang tinggi dalam menerjemahkan semangat zamannya masing-masing. Namun di sisi lain, kenyataan memilukan yang juga sering mengemuka di setiap panggung sejarah perubahan adalah bahwa kaum muda seperti kurang memiliki energi untuk mengarahkan perubahan serta kurang memiliki kesiapan kompetensi untuk mengisi perubahan tersebut.
Di situlah letak tantangan yang harus dihadapi oleh kaum muda saat ini dihadapkan pada berbagai persoalan, baik di tingkat lokal seperti korupsi, kemiskinan, pengangguran, kemandirian dan lain-lain maupun di tingkat global seperti isu-isu lingkungan hidup, pemanasan global, terorisme, dan sebagainya. Itu semua tentu saja tidak bisa diselesaikan oleh para pemuda yang hanya bisa bernostalgia dan beromantisme mengenang masa yang telah berlalu.
Setiap perubahan perlu energi besar yang lahir dari jiwa yang senantiasa menggelora khas anak muda, cerminan dari hati yang bersih serta nurani yang senantiasa berkobar. Jadi bukan munculnya generasi anak nongkrong yang jadi persoalan. Namun, intinya adalah ketika sensitivitas krisis dari generasi muda terus melemah serta kepeduliannya terhadap persoalan-persoalan besar telah terkikis, maka tunggulah saat di mana pemuda akan semakin menepi dan terpinggirkan dari panggung sejarah peradaban.
Zaman mungkin boleh berubah, semangat zaman yang menyertainya pun mungkin saja berbeda. Tetapi sekali lagi, akan selalu ada cahaya di ujung lorong yang gelap jika tetap ada sekelompok pemuda di setiap zaman yang tidak kehilangan sensitivitas dan kepeduliannya. Dua hal ini merupakan substansi dari nasionalisme yang dapat dipakai sebagai syarat minimal guna menakar nasionalisme kaum muda di setiap zaman.
 
2.2. Pengertian Bangsa
Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama, dan mempunyai kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah. Mereka umumnya dianggap memiliki asal-usul keturunan yang sama. Konsep bahwa semua manusia dibagi menjadi kelompok-kelompok bangsa ini merupakan salah satu doktrin paling berpengaruh dalam sejarah.
Beberapa definisi bangsa:
· Ernest Renan (Perancis)
Rakyat adalah sekelompok manusia yang memiliki kebudayaan atau adat istiadat yang sama, sedangkan bangsa adalah sekelompok manusia yang ada dalam ikatan batin yang dipersatukan karena memiliki persamaan sejarah dan cita-cita yang sama.
· Otto Bauer (Jerman)
Bangsa merupakan sekelompok manusia yang memiliki karakter karena persamaan nasib dan pengalaman sejarah budaya yang tumbuh berkembang bersama dengan tumbuh kembangnya bangsa.
· Kamus Besar Bahasa Indonesia
Bangsa menurut hukum adalah rakyat atau orang-orang yang berada dalam suatu masyarakat hukum yang terorganisir. Kelompok ini umumnya menempati bagian atau wilayah tertentu, berbicara dalam bahasa sama, memiliki sejarah, kebiasaan, dan kebudayaan yang sama, serta terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat.
· Ben Anderson
Bangsa merupakan komunitas politik yang dibayangkan dalam wilayah yang jelas batasnya dan berdaulat.
Dari beberapa pendapat ahli dapat disimpulkan bahwa bangsa adalah sekelompok orang yang dipersatukan karena memiliki persamaan latar belakang sejarah, cita-cita, dan keinginan untuk bernegara.
 
 
BAB 111
PEMBAHASAN
 
3.1. Arti Penting Dari Semangat Pemuda Bagi Masa Depan Bangsa
“Beri aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia”, itulah perkataan founding father Presiden Pertama Indonesia yang menegaskan betapa pentingnya peran pemuda dalam kemajuan bangsa dan Negara.  Baik buruknya suatu Negara dilihat dari kualitas pemudanya, karena generasi muda adalah penerus dan pewaris bangsa dan Negara.  Generasi muda harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global. Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change, moral force and social control sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat.
Di antara banyak orang-orang penting dari bangsa ini, pemuda adalah salah satu unsur yang berperan paling signifikan dalam rangka membangun kembali bangsa dengan penanaman nilai nasionalimse yang sejati. Semua kalangan tau bahwa pemuda itu penerus bangsa, akan tetapi jika tidak dipupuk sejak dini maka harapan itu dirasa hanya sia-sia. Pemudalah yang selama ini telah mewarnai laju sejarah dan dinamika pejuangan bangsa. Untuk itu kita pelu membangun jiwa dan pemikiran pemuda yang lebih berkualitas demi mengidamkan perubahan bangsa yang semakin baik.
Sejarah telah menorehkan tintanya, bahwa setiap momen penting perubahan banga ini senantiasa melibatkan kaum muda sebagai lokomotif penggeraknya. Ini semakin menegaskan bahwa arti pemuda bagi bangsa ini tidak bisa dinilai hanya sebatas perjuangan biasa. Banyak yang bisa dilakukan kaum muda di negeri tercinta ini sebagai langkah baru demi kemajuan bangsa. Memulai perubahan itu dari hal kecil tapi bisa dilakukan dengan cara sederhana maupun special. Indonesia dikenal dunia sebagia Negara yang kaya akan segalanya, alam, suku,budaya, dan lain sebagainya. Pemuda senantiasa bisa memanfaatkan momen ini sebagai langkah menunjukan bahwa kaum muda bukan sekedar pelengkap akan tetapi bisa menjadi leader utuk kebaikan bangsanya.
Saat ini diakui atau tidak semangat pemuda kian hari kian merosot. Semua hal dinegeri ini dilakukan dengan pertimbangan politik, untuk kepentingan golongan dan pribadi. Pemuda disinyalir krisis jiwa nasionalisme akibat ulah ini. Mulai hari ini pemuda bisa kembali bangkitkan jiwa itu, Perkenalkan alam kita pada dunia, tunjukan kecintaan kita akan suku dan budaya bangsa, jadilah pemuda yang bangga akan kekayaan bangsanya untuk tumbuhkan semangat nasionalisme yang menggebu.
Semua ini bisa terwujud jika kita berani berkomitmen membangun generasi muda yang berkualitas, menjadi calon pemimpin negeri yang menjanjikan, bijak dan ideal. Pepatah bijak mengatakan “ Bergeraklah. Karena orang yang diam tidak akan menghasilkan apa-apa”. Baik buruknya suatu negeri, itu tergantung pada pemudanya. Kecintaan generasi muda pada bangsa, akan mampu mengantarkan bangsa ini menjadi negara yang tidak hanya berpangaruh secara nasional akan tetapi juga di dunia internasional.
Dalam sejarah pergerakan dan perjuangan bangsa Indonesia, pemuda selalu mempunyai peran yang sangat strategis di setiap peristiwa penting yang terjadi. Ketika memperebutkan kemerdekaan dari penjajah belanda dan jepang kala itu, ketika menjatuhkan rezim Soekarno (orde lama), hingga kembali menjatuhkan rezim Soeharto (orde baru), pemuda menjadi tulang punggung bagi setiap pergerakan perubahan ketika masa tersebut tidak sesuai dengan keinginan rakyat.  Pemuda akan selalu menjadi People make history (orang yang membuat sejarah) di setiap waktunya. Pemuda memang mempunyai posisi strategis dan istimewa. Secara kualitatif, pemuda lebih kreatif, inovatif, memiliki idealisme yang murni dan energi besar dalam perubahan sosial dan secara kuantitatif, sekitar 30-40 % pemuda dari total jumlah penduduk Indonesia dalam kisaran umur 15-35 tahun dan akan lebih besar lagi jika kisaran menjadi 15-45 tahun.
 
3.2. Upaya Untuk Menumbuhkan Kembali Nasionalisme di Kalangan Pemuda
Upaya yang bisa di lakukan untuk menumbuhkan kembali nasionalisme di kalangan pemuda yaitu lewat peran keluarga, peran pendidikan dan peran pemerintah.
· Peran Keluaga
a)    Memberikan pendidikan sejak dini tentang sikap nasionalisme dan patriotism terhadap bangsa Indonesia,
b)   Memberikan contoh atau tauladan tentang rasa kecintaan dan penghormatan pada bangsa,
c)   Memberikan pengawasan yang menyeluruh kepada anak terhadap lingkungan sekitar, dan
d)   Selalu menggunakan produk dalam negeri.
· Peran Pendidikan
a)   Memberikan pelajaran tentang pendidikan pancasila dan kewarganegaraan dan juga bela Negara.
b)   Menanamkan sikap cinta tanah air dan menghormati jasa pahlawan dengan mengadakan upacara setiap hari senin.
c)   Memberikan pendidikan moral, sehingga para pemuda tidak mudah menyerap hal-hal negatif yang dapat mengancam ketahanan nasional.
· Peran Pemerintah
a)    Menggalakan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme, seperti seminar dan pameran kebudayaan.
b)   Mewajibkan pemakaian batik kepada pegawai negeri sipil setiap hari jumat. Hal ini dilakukan karena batik merupakan sebuah kebudayaan asli Indonesia, yang diharapkan dengan kebijakan tersebut dapat meningkatkan rasa nasionalisme dan patrotisme bangsa.
c)   Lebih mendengarkan dan menghargai aspirasi pemuda untuk membangun Indonesia agar lebih baik lagi.
 
3.3. Dampak yang Akan di Timbulkan dari Memudarnya Nasionalisme di Kalangan Pemuda
Kurangnya nasionalisme dan hilangnya spirit kemerdekaan di kalangan generasi penerus bangsa saat ini ternyata membawa dampak atau pengaruh yang cukup besar terhadap keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat ini.
Berbagai pengaruh globalisasi dan informasi dan kurangnya pendidikan fisik terutama di bidang kesejarahan seakan menjadi ancaman serius bagi generasi muda dalam memaknai dan menggelorakan semangat kemerdekaan di dalam jiwa mereka. Sejarahwan Unand, DR Gusti Asnan mengatakan penyebab utama dari memudarnya semangat nasionalisme dan kebangsaan dari generasi penerus bangsa terutama disebabkan contoh yang salah dan kurang mendidik yang diperlihatkan generasi tua atau kaum tua yang cenderung mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya daripada mendahulukan kepentingan bangsa dan rakyat.
Mereka seakan larut dalam euforia untuk mensejahterakan diri sendiri tanpa melihat bagaimana fenomena yang terjadi di negara kita saat ini, pengaruh kemiskinan yang sekaligus berimbas kepada kebodohan bangsa belum menjadi perhatian serius dari generasi tua atau para elite-elite politik bangsa ini. Gusti juga mengungkapkan pengaruh perkembangan informasi dan era globalisasi yang mulai merebak di negara kita juga menjadi momok yang sangat menakutkan bagi generasi muda. Mereka sudah mulai meninggalkan kebudayaan asli Indonesia dan itu diperkuat lagi dengan semangat globalisasi yang begitu kental dan digelorakan oleh pihak luar. Generasi muda seakan telah meninggalkan ciri khas kebangsaan dan mulai terpengaruh dengan budaya-budaya asing yang mulai menunjukkan taji-nya dan sekaligus telah menguasai seluruh aspek kehidupan di negara kita.
Pengaruh lainnya dari hilangnya spirit kemerdekaan di dalam jiwa generasi muda adalah kegagalan pemerintah dalam menumbuhkan sikap cinta tanah air lewat pendidikan fisik (physic education) terutama melalui pendidikan sejarah. Pemerintah mulai melupakan bagaimana perjuangan rakyat Indonesia tempo dulu dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan sehingga romantika kesejarahan ini tidak lagi dirasakan oleh generasi muda saat ini akibat tidak adanya pendidikan khusus yang diberikan pemerintah pusat kepada mereka. Pemerintah hanya mementingkan ideologi para penguasa namun kurang peduli terhadap masa depan bangsa dan rakyatnya sehingga rasa kebangsaan (nation) tidak terlihat dari generasi penerus bangsa sekarang.
Kondisi nasionalisme dan kebangsaan di kalangan generasi muda serta spirit kemerdekaan mereka mulai berkurang akibat contoh yang salah dan kurang mendidik serta sikap ogah-ogahan pemerintah yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongan. Sehingga rasa nasionalisme yang diharapkan tumbuh di dalam jiwa generasi penerus bangsa kini hanya sebatas wacana saja, tanpa adanya realita yang kita harapkan bersama. Kondisi ini juga disebabkan pengaruh globalisasi dan informasi modern serta era keterbukaan yang mulai melanda negara kita dan inilah yang menyebabkan hilangnya semangat membela tanah air atau kemerdekaan di dalam diri mereka. Kegagalan pemerintah atau penguasa yang kukuh menonjolkan ideologi masing-masing menjadi handicap utama sehingga rasa kebangsaan (nation) dari generasi muda mulai berkurang. Pemerintah juga dinilai gagal dalam menumbuhkan sikap cinta tanah air lewat pendidikan fisik misalnya pendidikan sejarah,” tukas Gusti kepada Padang Ekspres kemarin.
Untuk itu, pemerintah hendaknya perlu mawas diri dan melakukan koreksi diri dalam melakukan tindakan serta mulai memberdayakan generasi muda penerus bangsa supaya dapat memaknai arti dari Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, disamping itu pemerintah juga diharapkan tidak lagi menonjolkan egoisme pribadi dan golongan tetapi mulai peduli terhadap kepentingan rakyat dan bangsanya dan mulai memberikan tempat atau porsi lebih kepada pendidikan fisik bagi generasi muda contohnya pendidikan kewarganegaraan dan tidak lagi mengalami intervensi dari pihak manapun juga.
Sedangkan bagi generasi muda penerus bangsa juga harus mengetahui dan merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya dan tidak mudah terpengaruh dengan era globalisasi dan informasi yang semakin hari semakin canggih dan berkualitas tinggi. Sejarahwan juga harus mampu mensiasati fenomena ini karena disinilah letak tingkat keilmuan mereka bagaimana mengamati persoalan bangsa saat ini menjelang peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI ke 62.
 
 
BAB IV
PENUTUP
 
4.1. Kesimpulan
1. Sejarah telah menorehkan tintanya, bahwa setiap momen penting perubahan bangsa ini senantiasa melibatkan kaum muda sebagai lokomotif penggeraknya. Ini semakin menegaskan bahwa arti pemuda bagi bangsa ini tidak bisa dinilai hanya sebatas perjuangan biasa.
2. Di antara banyak orang-orang penting dari bangsa ini, pemuda adalah salah satu unsur yang berperan paling signifikan dalam rangka membangun kembali bangsa dengan penanaman nilai nasionalimse yang sejati.
3. Kurangnya nasionalisme dan hilangnya spirit kemerdekaan di kalangan generasi penerus bangsa saat ini ternyata membawa dampak atau pengaruh yang cukup besar terhadap keutuhan bangsa dan Negara. Olehnya nasionalisme di kalangan pemuda harus tetap di pupuk karena pemuda merupakan Nahkoda yang akan membawa bangsa kita menuju pelabuhan yang menjadikan bangsa ini besar, kaya dan sejahtera di berbagai bidang.
 
4.2. Saran
Melalui karya tulis ini, penulis menyarankan bahwa sebagai kalangan pemuda, marilah kita bersama-sama memupuk persaudaraan lewat nasionalisme dan kepedulian kita terhadap bangsa ini, agar supaya apa yang telah di cita-citakan bersama untuk mensukseskan bangsa ini di berbagai bidang, bisa terwujud. Di mulai dari hal-hal kecil, di mulai dari diri sendiri dan marilalah kita mulai saat ini.











































































































































1 comment:

  1. KTI nya bagus, tapi akan bagusnya lagi di kasih daftar pustaka ya kak😊

    ReplyDelete